Besaran “Uang Masuk” Ketua Asosiasi Buruh Sepakbola Inggris

Gordon Taylor

Premier League selaku operator Liga Inggris dalam beberapa waktu kedepan akan mengadakan pertemuan dengan Asosiasi Pesepakbola Profesional Inggris atau yang kita kenal PFA. Tujuan dari pertemuan tersebut adalah untuk mendiskusikan aliran dana hak siar televisi yang akan digunakan PFA.

Dana hak siar televisi dijadwalkan akan dibagikan kepada 20 kontestan yang berlaga di Premier League dan dana tersebut akan masuk juga ke PFA. Berdasarkan Dailymail, pertemuan tersebut tak lain karena Premier League ingin mengetahui lebih rinci apa yang dilakukan PFA atas uang tersebut. Ini tak lain karena santernya berita mengenai pendapatan Kepala Eksekutif PFA, Gordon Taylor, yang digadang-gadang mendapatkan hampir 3,4 juga pounds pada 2014 silam. Taylor disebut-sebut sebagai pejabat organisasi serikat buruh dengan bayaran terbesar di dunia.

Dailymail menyebut besaran gaji CEO PFA tersebut sebagai salah satu skandal terbesar di sepakbola Inggris. Pasalnya, para pemain Liga Inggris hanya perlu membayar 20 dan 150 pounds setiap tahunnya untuk terdaftar sebagai anggota PFA. Biaya sebesar itu tentu tidak akan bisa menutup gaji sang CEO. Maka, sudah menjadi hal yang umum kalau PFA mengalokasikan alokasi pendapatan hak siar dari Premier League untuk menggaji CEO.

Gordon Taylor adalah mantan pesepakbola, pernah bermain untuk Bolton Wanderers pada 1962-1970. Ia mengakhiri karirnya saat bermain untuk Bury FC pada 1978-1980. Usai pensiun sebagai pemain, Taylor mulai bekerja di PFA. Bekerja selama kurang lebih 35 tahun, ia menancapkan kekuasaannya di PFA. Ia memiliki banyak pendukung loyal yang menjaganya tetap menjabat posisi strategis di PFA.

Taylor pernah menjalani pemeriksaan setelah ia kedapatan memiliki utang judi yang hampir mencapai 100 ribu pounds. Padahal, Taylor-lah orang yang paling keras menyerukan tidak ada toleransi kepada pesepakbola jika mereka terlibat dalam perjudian.

Pada 2013, Taylor dikabarkan hanya mendapatkan 1,4 juta pounds dalam satu tahun. Artinya, terdapat peningkatan senilai hampir 2 juta pounds dalam nilai gajinya pada 2014 yang sebesar 3,4 juta pounds. Dengan bayaran 3,4 juta pounds atau setara 71 miliar rupiah, Taylor melewati angka rata-rata gaji pesepakbola Premier League yang mencapai 2,2 juta pounds pertahun.

Anggota dewan dari Partai Konservatif, Nigel Adams, mengecam besarnya pendapatan Taylor tersebut dan mengatakan ada indikasi Taylor mengalirkan dana ke tempat lain.
“Ini membuktikan betapa menggelikannya pencucian uang di sepakbola,” kata Adams, “Ini adalah gaji yang luar biasa untuk siapapun, apalagi untuk seorang kepala serikat buruh.”

Sejatinya, mengelola sebuah organisasi tidaklah masuk ke dalam pekerjaan. Kalaupun ada uang yang masuk, itu tak lebih sebagai bagian dari pengeluaran operasional organisasi. Mereka yang bekerja di organisasi olahraga macam FA, serta organisasi buruh sepert PFA, tidak selayaknya mencari uang di organisasi tersebut. Pasalnya, itu akan bertentangan dengan tujuan dari pendirian organisasi.

Tujuan PFA didirikan untuk membantu pesepakbola dalam memperjuangkan hak mereka. PFA membantu pesepakbola dalam masalah yang mereka miliki serta menjadi jembatan dengan mereka yang berkuasa.

“Nilai yang di junjung dari PFA adalah untuk melindungi, mendukung, dan menegosiasikan persyaratan, hak, dan status atas semua pemain profesional berdasarkan kesepakatan dan persetujuan kolektif,” tulis PFA di laman situsnya.

Jika tujuannya untuk mencari keuntungan, semestinya dibentuk sebuah perkumpulan usaha yang bisa mulai dari CV, koperasi, hingga perseroan. Wajar jika Premier League mencari keuntungan yang sebesar-besarnya karena mereka merupakan badan usaha, yang mana sahamnya dipegang oleh 20 kesebelasan peserta Premier League.