Menentukan Wakil Negara di Liga Champions berdasarkan Koefisiensi

Championscup

Edisi Liga Champions tahun 2015/2016 ini Spanyol mencatatkan sebuah sejarah. Spanyol adalah negara pertama yang mampu mengirimkan lima perwakilannya.

Pada kenyataannya Spanyol hanya mendapat jatah empat wakil, tapi karena peraturan baru UEFA yang memberikan satu tiket Liga Champions kepada juara Liga Europa musim lalu, maka Spanyol mendapat jatah lima wakil. Kebetulan, juara Liga Europa musim lalu berasal dari tanah matador, yakni Sevilla.

Sedangkan tahun ini Italia hanya diwakili oleh dua tim di fase grup Liga Champions. Bagi negara yang punya sejarah panjang di Liga Champions, hal tersebut terbilang sebagai sebuah kerugian.

Dalam sejarah penyelenggaraan Liga Champions, dari yang dulu masih bernama European Cup atau Piala Champions, tim dari ranah Italia sudah menyumbangkan 12 gelar juara liga Champions. Jumlah tersebut hanya kalah dari tim-tim Spanyol yang mempersembahkan 15 gelar dan sama banyak dengan Inggris yang juga mempersembahkan 12 gelar.

Namun, pada musim ini, Italia hanya diwakili dua tim: Juventus dan AS Roma. Juventus punya beban ekspektasi tersendiri. Selain berstatus sebagai juara Serie A musim kemarin, tim besutan Massimiliano Allegri itu juga finalis Liga Champions musim lalu.

Satu klub Italia lainnya, yakni Lazio, gagal melaju ke fase grup. Rival sekota Roma itu tak bisa melewati hadangan Bayer Leverkusen, yang disebut oleh pelatih mereka, Stefano Pioli, jauh lebih berpengalaman.

Italia terbilang sial, lantaran mereka hanya dijatah tiga wakil oleh UEFA untuk Liga Champions. Makin tidak mengenakkan buat mereka, salah satu wakil masih harus berkutat di babak play-off lebih dulu. Bandingkan dengan Inggris, yang dijatah empat wakil oleh UEFA, sehingga sudah punya 3 wakil lebih dulu di fase grup.

Jatah perwakilan setiap negara mempunyai cara perhitungannya tersendiri. Semuanya dihitung oleh nilai koefisien negara-negara anggota UEFA berdasarkan performa tim-tim mereka di kompetisi antarklub eropa. Untuk musim 2015/2016, koefisiensi dihitung berdasarkan performa tim-tim sejak musim 2009/2010 hingga 2013/2014.

Untuk saat ini, Spanyol masih memimpin daftar peringkat koefisien Eropa dengan nilai 97.713. Mereka diikuti oleh Inggris di posisi kedua dan Jerman di posisi ketiga. Ketiga negara ini berhak mendapatkan jatah empat wakil.

Sementara Italia, yang memiliki nilai koefisien 66.938, berada di posisi keempat mendapatkan jatah tiga wakil. Jatah yang sama juga diberikan kepada Portugal (posisi kelima) dan Prancis (posisi keenam).

Negara-negara yang berada di posisi 7 hingga 15, yakni Rusia, Belanda, Ukraina, Belgia, Turki, Yunani, Swiss, Austria, dan Republik Ceko, mendapatkan jatah dua wakil. Sementara, sisanya mendapatkan jatah satu wakil.

Selain mengenal koefisiensi untuk negara, UEFA juga mengenal koefisiensi untuk klub-klub peserta Liga Champions. Ini digunakan untuk menentukan berada di pot mana klub tersebut sebelum undian dilakukan.

Untuk musim 2015/2016 ini, UEFA memberlakukan peraturan baru. Klub-klub yang berada di pot 1 adalah mereka yang menjadi juara di negara-negara yang termasuk 7 besar dalam peringkat koefisien UEFA (Spanyol, Inggris, Jerman, Italia, Portugal, Prancis, dan Rusia), plus juara Liga Champions musim sebelumnya.

Oleh karenanya, Chelsea, Bayern Munich, Juventus, Benfica, Paris Saint-Germain, dan Zenit St Petersburg masuk dalam pot tersebut. Barcelona masuk dalam pot tersebut dengan status juara Liga Champions musim lalu. Karena Barca juga berstatus juara Spanyol musim lalu, jatah tersebut tidak digunakan. Sebaliknya, jatah juara tersebut diberikan kepada juara dari negara posisi kedelapan dalam peringkat koefisien UEFA, yakni PSV Eindhoven dari Belanda.

Sementara, pot 2 akan diisi oleh tim-tim yang punya nilai koefisien bagus dalam kompetisi antarklub Eropa. Inilah yang menyebabkan tim seperti Manchester United dan Valencia –yang tak ikut serta di Liga Champions musim lalu– tetap bisa masuk di pot 2.

Sedangkan mereka yang ada di pot 3 dan 4 berasal dari tim-tim lainnya yang memiliki nilai koefisien yang lebih rendah dalam peringkat koefisien antarklub UEFA.